
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon mendorong penguatan kajian sejarah Islam sekaligus penelusuran jejak intelektual Syekh Yusuf dalam konteks Cirebon melalui kegiatan seminar nasional. Seminar nasional tersebut berlangsung di Gedung SBSN Siber Lantai 8 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Senin (5/10/2026). Mengangkat tema “Emulating the Intellectual Trajectory of Syekh Yusuf Al-Makassari: Ulama, Tarekat, and Seventeenth-Century Colonial Politics in the Strengthening of Cirebon’s Islamic Traditions”, forum ini menghadirkan Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag. sebagai Opening Speech, dengan tiga Guest Speaker, yakni Dr. Farid F. Saenong, M.A., Ph.D., Prof. Dr. K.H. Ahmad Baso, M.A., dan Prof. Didin Nurul Rosidin, M.A., Ph.D. Diskusi dimoderatori Dr. Tendi, M.Hum.
Seminar ini membahas hubungan Syekh Yusuf al-Makassari dengan kota Cirebon. Hubungan tersebut memang ada, tetapi tidak boleh dianggap terlalu penting. Cirebon menjadi salah satu bagian dari perjalanan Syekh Yusuf ketika ia ditangkap pada tahun 1683 setelah melakukan perlawanan terhadap penjajah. Kemudian ia dipindahkan ke Batavia, lalu diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka), dan akhirnya dibawa ke Cape Town.
Bukti yang ada belum cukup untuk menyebut bahwa Cirebon sebagai pusat pengajaran atau penulisan karya Syekh Yusuf. Karena itu, penahanan atau persinggahannya di Cirebon tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan adanya "Mazhab Yusufiyyah Cirebon".
Hal yang lebih penting adalah melihat jaringan ulama dan sufi yang menghubungkan Cirebon dengan Banten, Priangan, Aceh, Timur Tengah, dan wilayah Nusantara lainnya. Syekh Yusuf juga menunjukkan bahwa otoritas sufi memiliki pengaruh dalam politik, terutama dalam menghadapi VOC. Dengan demikian, Cirebon bukan hanya bagian dari perjalanan Syekh Yusuf, tetapi juga menjadi titik penting dalam jaringan politik, sufi, dan kolonial yang membentuk masa akhirnya di Jawa, serta warisan pengetahuannya.