Jakarta, 14 Agustus 2026 — Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon turut berpartisipasi dalam Konferensi Nasional Komunikasi Islam (KNKI) VI Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (ASKOPIS) serta Annual International Conference on Islam, Media, and Digital Society (AICIMDS) yang diselenggarakan di Hotel Millenium-Sirih, Jakarta, pada 12–14 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Media, the Contemporary Muslim World, and Digital Network Society: Authority, Identity, and Social Transformation”. Forum ini mempertemukan pengelola program studi, akademisi, peneliti, pengelola jurnal, praktisi, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan keilmuan Komunikasi dan Penyiaran Islam di tengah transformasi digital.
Delegasi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terdiri atas Dr. Arief Rachman, M.Si., Abdu Zikrillah, M.Ds., dan H. Aan Mohamad Burhanudin, MA. Kehadiran delegasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pengembangan keilmuan, kelembagaan, mutu pendidikan, publikasi ilmiah, serta jejaring kerja sama Program Studi KPI.
Dalam kegiatan tersebut, delegasi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon mengikuti berbagai agenda, mulai dari konferensi internasional, call for papers, lokakarya penguatan kelembagaan dan keilmuan, standarisasi mutu, workshop penulisan jurnal internasional bereputasi dan pengelolaan OJS, temu pengelola program studi dan jurnal KPI, hingga agenda penandatanganan kerja sama, Musyawarah Daerah, dan pelantikan DPD ASKOPIS.
Nomenklatur KPI Tetap Relevan

Salah satu isu penting yang dibahas dalam lokakarya adalah perkembangan kelembagaan dan keilmuan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Direktur Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., menyampaikan bahwa nomenklatur Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) tetap dipertahankan dan masih relevan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi keagamaan Islam.
Meskipun demikian, perguruan tinggi juga memiliki ruang untuk mengembangkan nomenklatur dan kurikulum sesuai karakteristik, visi, kebutuhan, serta kekhasan keilmuan masing-masing. Pengembangan tersebut perlu tetap adaptif terhadap perkembangan ilmu komunikasi, media, teknologi digital, dan kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Dewan Eksekutif LAMSPAK, Prof. Dr. R.M. Khairul Muluk, M.Si., menyoroti perubahan dunia yang berlangsung cepat akibat perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), perubahan sosial-demografis, perubahan iklim, dan dinamika geopolitik.
Kondisi tersebut menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi, termasuk dalam merancang kurikulum Program Studi KPI. Kurikulum tidak cukup hanya mengacu pada kebutuhan dunia kerja saat ini, tetapi juga perlu membaca market signal, melakukan research study, dan memprediksi kompetensi yang dibutuhkan pada masa mendatang.
Karena itu, transformasi kurikulum dan pembelajaran perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan mengintegrasikan literasi digital dan AI serta membekali mahasiswa dengan kompetensi yang adaptif terhadap perubahan dunia kerja.
Dorong Lulusan KPI Bersertifikasi Kompetensi

Persoalan kompetensi lulusan juga menjadi perhatian dalam lokakarya. Anggota BNSP RI, Dr. Dr. Muhammad Nur Hayid, M.M., CSM., menegaskan pentingnya menggeser orientasi pendidikan tinggi dari sekadar menghasilkan lulusan berijazah menuju lulusan yang memiliki kompetensi terukur, diakui, dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Sertifikasi kompetensi melalui skema yang diakui BNSP dinilai dapat menjadi instrumen penting untuk membuktikan kemampuan profesional lulusan, antara lain dalam bidang content creator, public speaking, presenter/host, dan berbagai bidang profesional komunikasi lainnya.
Dengan demikian, pendidikan KPI perlu diarahkan pada pemetaan profil lulusan, kebutuhan jabatan kerja, penyusunan kompetensi yang relevan, serta penguatan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), sehingga mahasiswa dapat memperoleh sertifikasi sebelum atau bersamaan dengan kelulusan.
Bahas Masa Depan Media Islam di Era Digital

Pada hari kedua, delegasi mengikuti Annual International Conference on Islam, Media, and Digital Society (AICIMDS) dengan tema yang menyoroti hubungan antara media, masyarakat Muslim kontemporer, dan masyarakat jaringan digital.
Salah satu pembahasan datang dari Denis Bolotsky, Head of RT’s Office in Indonesia and ASEAN, yang menekankan pentingnya jurnalisme dalam merepresentasikan kehidupan masyarakat Muslim secara lebih utuh. Media tidak hanya dituntut memberitakan persoalan geopolitik dan konflik, tetapi juga menghadirkan pengalaman manusia, keberagaman tradisi, solidaritas, serta hubungan antar-komunitas Muslim di berbagai negara.
Sementara itu, Assoc. Prof. Burak Güneş, Counsellor for Communication pada Kedutaan Besar Republik Türkiye di Jakarta, membahas ancaman disinformasi pada era post-truth. Perkembangan media sosial, algoritma, echo chamber, jaringan bot, dan propaganda komputasional dapat memengaruhi opini publik serta memperkuat polarisasi.
Karena itu, masyarakat membutuhkan ketahanan informasi melalui literasi media dan AI, komunikasi strategis, teknologi verifikasi informasi, serta regulasi yang mampu melindungi masyarakat tanpa mengabaikan kebebasan berekspresi.
Pembahasan lainnya disampaikan Prof. Andi M. Faisal Bakti, M.A., Ph.D., yang menguraikan perubahan ekosistem media Indonesia dari media massa menuju ekosistem yang dipengaruhi platform digital, algoritma, kreator, dan kecerdasan buatan.
Perubahan tersebut membawa peluang sekaligus tantangan bagi dakwah Islam, seperti disinformasi, deepfake, bias algoritma, hilangnya konteks keagamaan, munculnya otoritas keagamaan semu, hingga risiko penyalahgunaan AI. Karena itu, pengembangan media dan dakwah Islam perlu tetap berlandaskan prinsip komunikasi Islam seperti tabayyun, amanah, hikmah, maslahah, serta perlindungan terhadap martabat manusia.
Sementara itu, Prof. Dr. Ahmad Sunawari Long dari Universiti Kebangsaan Malaysia membahas transformasi masyarakat Muslim dalam menghadapi masyarakat digital. Ia menawarkan gagasan Tawhidic Digital Civilisation, yakni pengembangan teknologi yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis, tetapi juga berlandaskan nilai tauhid, amanah, khalifah, dan Maqasid al-Shariah.
Dalam perspektif tersebut, umat Islam didorong untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga menjadi pencipta, inovator, dan pengelola teknologi yang bertanggung jawab secara etis.
Perkuat Publikasi Ilmiah dan Reputasi Akademik

Selain konferensi, delegasi juga mengikuti Workshop Nasional Penulisan Jurnal Ilmiah Internasional Bereputasi. Workshop memberikan penguatan mengenai pentingnya kajian literatur, identifikasi research gap, kontribusi penelitian, serta kebaruan dalam penulisan artikel ilmiah.
Peserta juga memperoleh wawasan mengenai penyusunan abstrak dan pendahuluan, state of the art, research gap, novelty, kesesuaian metode dan hasil, serta strategi menyesuaikan artikel dengan standar jurnal yang dituju. Integritas publikasi juga menjadi perhatian, termasuk pentingnya mendokumentasikan proses submission, korespondensi, review, revisi, hingga acceptance, serta menghindari jurnal predator.
Prof. Dr. rer.soc. Masduki, S.Ag., M.Si., M.A., dalam kegiatan tersebut juga menekankan pentingnya membangun reputasi akademik secara konsisten melalui karya ilmiah berkualitas. Selain kemampuan menulis, akademisi perlu membangun jejaring melalui komunitas akademik, konferensi, publikasi, dan berbagai aktivitas ilmiah lainnya.
Keikutsertaan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam KNKI VI ASKOPIS dan AICIMDS 2026 menjadi momentum strategis untuk memperkuat pengembangan Program Studi KPI, terutama dalam menghadapi perubahan ekosistem komunikasi dan media digital.
Melalui forum tersebut, perguruan tinggi memperoleh berbagai perspektif mengenai pengembangan kurikulum, sertifikasi kompetensi, transformasi digital, kecerdasan buatan, literasi media, dakwah di ruang digital, serta penguatan publikasi ilmiah. Hal ini menjadi bagian penting dalam upaya mempersiapkan lulusan KPI yang adaptif, kompeten, profesional, dan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja serta dinamika masyarakat digital.